PDF
Print
E-mail
22
May

Belajar dari Pengalaman Totalitas dalam Meningkatkan Status Gizi Anak melalui Pendekatan Positive Deviance

Penulis :Totalitas

Pendahuluan

Perubahan sosial merupakan keniscayaan yang mesti dilakukan dalam evolusioner kehidupan manusia, seiring dengan kebutuhan manusia itu sendiri menuju kehidupan yang lebih layak. Banyak sudah teori-teori dan praktek perubahan sosial yang telah diciptakan, dipromosikan, dan dilakukan. Namun tidak sedikit dari praktek terbaik perubahan sosial tersebut yang “harus dipaksakan” demi tercapainya kebutuhan “global” yang pada akhirnya harus masuk ke dalam kantong TBU (True But Useless) atau “benar tapi sia-sia”.

Perkembangan model perubahan sosial (social change) yang menarik perhatian banyak pihak, salah satunya adalah Positive Deviance (Penyimpangan Positif) yang menuntut keterlibatan masyarakat, menggunakan resources yang ada pada masyarakat sehingga sustainability-nya akan terjaga. Namun model Positive Deviance ini harus dimulai pada kelompok kecil yang intensitas interaksi sosial mereka cukup tinggi dan pada akhirnya ditemukan solusi dalam kelompok kecil tersebut, tidak dari luar kelompok. Sehingga model ini memberikan impact yang signifikan bagi komunitas sekitarnya.

Positive Deviance sebagai sebuah model perubahan prilaku telah dibuktikan di puluhan negara berkembang, seperti perubahan prilaku dalam mengurangi malnutrisi di Vietnam, Myanmar, Nepal/Buthan, Bolivia, Bangladesh dan lainnya; pencegahan penyebaran HIV/AIDS di dunia ketiga, pencegahan mutilasi perempuan di Egypt, konflik etnis di Afrika dan lainnya.

Kilas Perjalanan Positive Deviance

“Solutions to community problems already exist within the community”, Jerry Sternin mengadopsi sebuah pendekatan radikal untuk melakukan perubahan dengan pemikiran: perubahan yang sesungguhnya dimulai dari dalam. (David Dorsey; 2000).

Setidaknya menurut Jerry Sternin permasalahannya tidak terletak pada para pakar atau pada komunitas tersebut, penerapan model tradisional untuk melakukan perubahan sosial dan organisasional tidak akan berhasil dan belum pernah berhasil, mungkin permasalahannya terletak pada proses bagaimana perubahan itu terjadi secara holistik, namun esensinya adalah bahwa kita tidak bisa mengimpor perubahan dari luar ke dalam. Solusi yang bijak adalah kita harus mencari kegiatan-kegiatan kecil yang “menyimpang” akan tapi terbukti berhasil yang ada di komunitas dan kemudian memperkuat kegiatan-kegiatan tersebut. Awal perubahan besar akan terjadi ketika kita berhasil menemukannya.

Itu telah dibuktikan Sternin ketika bertugas membantu menyelamatkan anak-anak kelaparan dan mengalami kasus gizi buruk di Vietnam dengan menggunakan pendekatan yang telah terbukti berhasil menumbangkan pemikiran-pemikiran konvensional secara terencana, tegas, dramatis dan sukses.

Pendekatan Sternin didasarkan dari hasil kerja yang dilakukan oleh Marian Zeitlin di Universitas Tufts pada akhir 1980-an melakukan penelitian di beberapa rumah sakit di komunitas yang sedang berkembang untuk mengetahui mengapa sebahagian kecil anak-anak yang menderita kekurangan gizi (para penyimpang) mengatasi kondisi tersebut dengan lebih baik dibanding dengan sebahagian besar anak-anak penderita kekurangan gizi lainnya, apa yang membuat mereka mampu dengan cepat mengatasinya? (David Dorsey; 2000)

Dari penelitian ini muncul pemikiran untuk memperkuat penyimpangan positif sebagai sebuah teori yang diuji oleh Sternin dan istrinya Monique pada tahun 1990-an dalam situasi yang berbeda. Ide ini muncul sebagai tanggapan dari permintaan pemerintah Vietnam untuk membantu mengurangi angka malnutrisi yang luar biasa.
Sternin tidak memakai solusi konvensional karena solusi itu hanya tentang: sistim sanitasi yang buruk, ketidakpedulian, pola distribusi makanan, kemiskinan, dan buruknya akses terhadap air bersih. Sementara ribuan bahkan jutaan anak tidak dapat menunggu sampai masalah tersebut bisa diatasi. Akhirnya Sternin dan istrinya memutuskan untuk memperkuat penyimpangan positif.

Dalam setiap komunitas, organiasi, atau kelompok sosial, terdapat beberapa individu yang mempunyai prilaku dan kebiasaan tersendiri yang membuat mereka mampu mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan orang di sekitarnya meskipun mereka mempunyai sumberdaya yang sama. Tanpa disadari para “penyimpang positif” ini telah menemukan jalur keberhasilan untuk seluruh kelompok apabila rahasia mereka dapat dianalisa, diisolasi, dan kemudian dibagikan kepada seluruh kelompok.

Dalam melakukan tugasnya di Vietnam, Sternin menjalani langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, jangan beranggapan kalau anda sudah memiliki solusinya; Kedua, jangan mengangggapnya sebagai sebuah pesta makan malam dengan banyak orang dan sumberdaya yang berbeda; Ketiga, biarkan mereka melakukannya sendiri; Keempat, identifikasi kebijakan konfensional; Kelima, identifikasi dan analisa para penyimpang; Keenam, biarkan para penyimpang mengadopsi penyimpangan dengan sendirinya; Ketujuh, amati hasil dan publikasikan; Kedelapan, ulangi langkah satu hingga tujuh. (David Dorsey; 2000)

Konsep Umum Positive Deviance

Dalam positive deviance, secara teoritis ada tahapan yang harus dilakukan yang disebut dengan istilah 6 “D” sebagai langkah yang harus dilalui dengan catatan yang melakukannya adalah komunitas yang bersangkutan yang didampingi oleh fasilitator. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Define, tetapkan atau definisikan masalah dan solusinya, dengarkan apa penyebabnya (analisis situasi) menurut mereka/komunitas sehingga lahir problem statement dari komunitas. Misalnya, dalam suatu kelompok masyarakat, anak-anak keluarga miskin mengalami kekurangan gizi.

Determine, tentukan apakah ada orang-orang dari komunitas mereka yang telah menunjukkan prilaku yang diharapkan atau menyimpang (deviants) dari keluarga miskin yang lain. Misalnya, ada anak dari keluarga miskin yang gizinya baik, sementara mereka berasal dari tempat yang sama dan menggunakan sumber yang sama

Discover, cari tahu apa yang membuat “penyimpang” mampu menemukan solusi yang lebih baik dari pada tetanggganya. Misalnya, “penyimpang” memberikan makanan secara aktif kepada anaknya, memberikan makanan yang bergizi (bersumber lokal) walau tidak biasa dikonsumsi oleh orang lain, memberi makan lebih sering kepada anaknya. Pastikan “penyimpang“ tidak mendapatkan subsidi dari sanak keluarganya yang mampu, baik yang berada di perkampungan itu maupun di daerah lain, sehingga itu juga merupakan penyebab anak tersebut menjadi lebih sehat.

Design, rancang dan susun strategi yang memampukan orang lain mengakses dan mengadopsi prilaku baru tersebut. Misalnya, membuat program gizi dan peserta diwajibkan membawa food contributions berupa makanan “penyimpang” dan mempraktekkannya secara aktif. Atau ada strategi lain yang bersumber kepada kebiasaan lokal yang bisa mendukung pengadopsian prilaku “penyimpang” yang sehat tadi.

Discern, amati tingkat efektivitas intervensi melalui pengawasan dan monitoring yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, mengukur status gizi anak-anak yang ikut program gizi dengan penimbangan dan dampaknya kepada anak-anak sepanjang waktu. Juga jangan lupa mengukur tingkat kepedulian anggota masyarakat lain terhadap peningkatan gizi anak, karena ini juga merupakan peningkatan kapasitas masyarakat terhadap kesehatan terutama gizi anak.

Disseminate, sebarluaskan kesuksesan kepada kelompok lain yang sesuai. Misalnya, bentuk sebuah “Universitas Hidup” (laboratorium sosial) sebagai tempat belajar bagi orang lain yang tertarik untuk mengadopsi prilaku mereka sendiri di tempat lain dan siap berpartisipasi dalam program tersebut. Untuk pendukung juga lebih bagus dilakukan kampanye terhadap peningkatan status gizi anak yang lebih efektif dan efisien daripada pola yang konvensional. Jadikan isu ini menjadi isu komunitas, tidak isu pribadi hanya keluarga yang terkena kasus gizi buruk saja.

Implementasi Positive Deviance dalam Konteks Perbaikan Gizi

Membuat design dan melakukan sebuah program ataupun kegiatan berbasis masyarakat dengan memanfaatkan model Positive Deviance adalah merupakan hal yang sederhana walau tidak mudah. Hal ini karena ada beberapa proses pencarian, penggalian dan penyelidikan yang menjadi awal titik kritis yang membutuhkan kehati-hatian dan keseriusan dalam penyaringannya, di samping titik kritis lain seperti pekerjaan ini harus benar-benar partisipatif dan melibatkan komunitas dari awal memulai aktivitas.

Beberapa catatan penting dirasa perlu diungkapkan dari pengalaman Totalitas melaksanakan program Inovasi Gizi Anak Nagari (INGAN) dalam menjalani proses standar implementasi perbaikan gizi dengan model Positive Deviance (PD) di Sungai Lasi Kabupaten Solok, Sumatera Barat adalah sebagai berikut:

1.    Putuskan apakah PD & Hearth memungkinkan untuk masyarakat dampingan

Dalam proses memutuskan apakah kegiatan ini memungkinkan dilakukan dalam sebuah komunitas sebaiknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya prevalensi kekurangan gizi terhadap anak di dalam komunitas yang akan diintervensi di atas 30% (gizi baik dan gizi kurang) karena kalau ternyata kurang dari jumlah tersebut dikhawatirkan solusi ini kurang efektif karena ternyata kondisi gizi anak di komunitas tersebut sudah cukup baik dan solusi lain mungkin lebih efektif dilakukan secara intensif. Di Nagari Taruang-taruang yang di data melalui penimbangan langsung ke rumah-rumah penduduk karena khawatir dari jumlah anak ternyata tidak semuanya yang datang penimbangan di posyandu, didapat 43,7% anak yang mengalami kekurangan gizi, sedangkan di Nagari Sungai Durian ditemukan 51,35% anak yang mengalami kekurangan gizi.

Setelah mendapatkan angka valid dari penimbangan langsung, sebelumnya juga dihindari kendala teknis akan mungkin menghambat proses penimbangan, seperti keakuratan timbangan yang digunakan karena itu dapat membuat pekerjaan yang akan dilakukan menjadi sia-sia. Selanjutnya dilakukan survey tentang ketersediaan sumberdaya makanan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat 2 nagari di Sungai Lasi ternyata mencukupi kebutuhan makanannya sebagian dari hasil lahan garapan mereka dan sebagian lagi dibeli di pasar dan warung. Artinya, ketersediaan makanan di dua daerah tersebut dalam keadaan normal terjamin. Kondisi normal dimaksud adalah diukur dengan kemampuan daya beli dan kondisi hasil pertanian yang ada serta pendapatan masyarakat. Juga perlu diperhatikan bahwa masyarakat tidak dalam mendapatkan bantuan makanan atau yang lainnya yang berhubungan dengan akses makanan dalam jangka pendek dari pihak luar. Apabila masyarakat mendapatkan bantuan dari pihak luar, hal itu berarti masyarakat memang tidak mampu mengakses makanan secara mandiri, Makanya program ini boleh diklasifikasikan kepada masa rehabilitasi, bukan emergency karena dalam keadaan emergency program ini tidak efektif dilakukan.

Survey ini menjadi penting karena program perbaikan gizi akan dilakukan dalam waktu yang panjang oleh masyarakat secara partisipatif, bukan hanya kegiatan jangka pendek dan pastikan bahwa sumberdaya tersebut adalah berasal dari lokal dan tidak didatangkan dari luar komunitas atau dari luar daerah. Apabila sumberdaya tersebut berasal dari daerah lain, maka ketersediaan setiap waktu dan juga kemampuan masyarakat dalam mengaksesnya diragukan, apalagi dengan kondisi perekonomian di Sungai Lasi yang cukup sulit bagi mereka mendatangkan sumberdaya dari luar.

Kondisi lain yang perlu dipantau sehubungan dengan justifikasi dalam memilih program ini sebagai solusi kekurangan gizi adalah adanya faktor penghambat selain yang disebutkan di atas, seperti cacingan pada anak, angka TB yang tinggi, diare, pneumonia, dan KLB penyakit campak yang mengharuskan pihak pelaksana program menuntaskan dulu penyakit tersebut dengan intervensi medis sebelum melakukan program. Di Sungai Lasi tidak ditemukan faktor penghambat di atas, kecuali diare yang dialami oleh beberapa anak dan satu orang anak direkomendasikan harus mendapat perawatan medis secara intensif karena mangalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan adalah meminta kesediaan dari keluarga yang mempunyai anak, khususnya yang mengalami gangguan gizi (setelah ditimbang) untuk berkomitmen mengikuti program. Hal ini tidaklah mudah, karena seorang fasilitator harus tanggap kepada perasaan dan kebutuhan keluarga, misalnya orang tua akan marah jika anaknya dikatakan kurang gizi (walaupun kenyataannya benar). Carilah bahasa yang lebih halus dan tidak vulgar, seperti, “hasil timbangan anak ibu kurang dari yang seharusnya” atau bahasa lainnya yang tidak akan membuat orang tua tersinggung. Karena ketersinggungan itu berdampak kepada keengganan untuk terlibat dalam program dan menurunkan motivasi untuk memperbaiki gizi anak.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah menumbuhkan kepedulian orang tua (tidak hanya istri, akan tetapi juga suami dang anggota keluarga lainnya) terhadap kesehatan dan gizi anak. Sang istri yang sudah mengetahui urgensi kecukupan gizi anak juga harus memotivasi sang suami dan anggota keluarga lainnya. Pasangan suami istri di Koto Tuo, Sungai Lasi, misalnya. Sang suami membawa anak mereka ke pos gizi -menggantikan istrinya- dan berdiskusi bersama keluarga lainnya.  Sang istri sangat bangga bahwa suaminya punya kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan anak mereka. Sehingga mereka rutin bergantian dan bahkan sering bersama mengikuti sesi gizi di kampung mereka.

Meminta komitmen dari pemuka masyarakat setempat untuk mendukung program ini merupakah keharusan, karena dengan dukungan dalam pertemuan-pertemuan di masyarakat, membuat motivasi masyarakat menjadi lebih tinggi untuk berpartisipasi. Seperti di Pos Gizi Koto Tuo, Wali Jorong, pemuka masyarakat lainnya bersama masyarakat dan pemuda bergotongroyong memperbaiki bangunan yang akan dijadikan sebagai pos gizi bagi anak-anak mereka, ini merupakan awal yang sangat baik dalam menjalankan program yang partisipatif.

Da