PDF
Print
E-mail
22
May

Belajar dari Pengalaman Totalitas dalam Meningkatkan Status Gizi Anak melalui Pendekatan Positive Deviance

Penulis :Totalitas

Pendahuluan

Perubahan sosial merupakan keniscayaan yang mesti dilakukan dalam evolusioner kehidupan manusia, seiring dengan kebutuhan manusia itu sendiri menuju kehidupan yang lebih layak. Banyak sudah teori-teori dan praktek perubahan sosial yang telah diciptakan, dipromosikan, dan dilakukan. Namun tidak sedikit dari praktek terbaik perubahan sosial tersebut yang “harus dipaksakan” demi tercapainya kebutuhan “global” yang pada akhirnya harus masuk ke dalam kantong TBU (True But Useless) atau “benar tapi sia-sia”.

Perkembangan model perubahan sosial (social change) yang menarik perhatian banyak pihak, salah satunya adalah Positive Deviance (Penyimpangan Positif) yang menuntut keterlibatan masyarakat, menggunakan resources yang ada pada masyarakat sehingga sustainability-nya akan terjaga. Namun model Positive Deviance ini harus dimulai pada kelompok kecil yang intensitas interaksi sosial mereka cukup tinggi dan pada akhirnya ditemukan solusi dalam kelompok kecil tersebut, tidak dari luar kelompok. Sehingga model ini memberikan impact yang signifikan bagi komunitas sekitarnya.

Positive Deviance sebagai sebuah model perubahan prilaku telah dibuktikan di puluhan negara berkembang, seperti perubahan prilaku dalam mengurangi malnutrisi di Vietnam, Myanmar, Nepal/Buthan, Bolivia, Bangladesh dan lainnya; pencegahan penyebaran HIV/AIDS di dunia ketiga, pencegahan mutilasi perempuan di Egypt, konflik etnis di Afrika dan lainnya.

Kilas Perjalanan Positive Deviance

“Solutions to community problems already exist within the community”, Jerry Sternin mengadopsi sebuah pendekatan radikal untuk melakukan perubahan dengan pemikiran: perubahan yang sesungguhnya dimulai dari dalam. (David Dorsey; 2000).

Setidaknya menurut Jerry Sternin permasalahannya tidak terletak pada para pakar atau pada komunitas tersebut, penerapan model tradisional untuk melakukan perubahan sosial dan organisasional tidak akan berhasil dan belum pernah berhasil, mungkin permasalahannya terletak pada proses bagaimana perubahan itu terjadi secara holistik, namun esensinya adalah bahwa kita tidak bisa mengimpor perubahan dari luar ke dalam. Solusi yang bijak adalah kita harus mencari kegiatan-kegiatan kecil yang “menyimpang” akan tapi terbukti berhasil yang ada di komunitas dan kemudian memperkuat kegiatan-kegiatan tersebut. Awal perubahan besar akan terjadi ketika kita berhasil menemukannya.

Itu telah dibuktikan Sternin ketika bertugas membantu menyelamatkan anak-anak kelaparan dan mengalami kasus gizi buruk di Vietnam dengan menggunakan pendekatan yang telah terbukti berhasil menumbangkan pemikiran-pemikiran konvensional secara terencana, tegas, dramatis dan sukses.

Pendekatan Sternin didasarkan dari hasil kerja yang dilakukan oleh Marian Zeitlin di Universitas Tufts pada akhir 1980-an melakukan penelitian di beberapa rumah sakit di komunitas yang sedang berkembang untuk mengetahui mengapa sebahagian kecil anak-anak yang menderita kekurangan gizi (para penyimpang) mengatasi kondisi tersebut dengan lebih baik dibanding dengan sebahagian besar anak-anak penderita kekurangan gizi lainnya, apa yang membuat mereka mampu dengan cepat mengatasinya? (David Dorsey; 2000)

Dari penelitian ini muncul pemikiran untuk memperkuat penyimpangan positif sebagai sebuah teori yang diuji oleh Sternin dan istrinya Monique pada tahun 1990-an dalam situasi yang berbeda. Ide ini muncul sebagai tanggapan dari permintaan pemerintah Vietnam untuk membantu mengurangi angka malnutrisi yang luar biasa.
Sternin tidak memakai solusi konvensional karena solusi itu hanya tentang: sistim sanitasi yang buruk, ketidakpedulian, pola distribusi makanan, kemiskinan, dan buruknya akses terhadap air bersih. Sementara ribuan bahkan jutaan anak tidak dapat menunggu sampai masalah tersebut bisa diatasi. Akhirnya Sternin dan istrinya memutuskan untuk memperkuat penyimpangan positif.

Dalam setiap komunitas, organiasi, atau kelompok sosial, terdapat beberapa individu yang mempunyai prilaku dan kebiasaan tersendiri yang membuat mereka mampu mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan orang di sekitarnya meskipun mereka mempunyai sumberdaya yang sama. Tanpa disadari para “penyimpang positif” ini telah menemukan jalur keberhasilan untuk seluruh kelompok apabila rahasia mereka dapat dianalisa, diisolasi, dan kemudian dibagikan kepada seluruh kelompok.

Dalam melakukan tugasnya di Vietnam, Sternin menjalani langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, jangan beranggapan kalau anda sudah memiliki solusinya; Kedua, jangan mengangggapnya sebagai sebuah pesta makan malam dengan banyak orang dan sumberdaya yang berbeda; Ketiga, biarkan mereka melakukannya sendiri; Keempat, identifikasi kebijakan konfensional; Kelima, identifikasi dan analisa para penyimpang; Keenam, biarkan para penyimpang mengadopsi penyimpangan dengan sendirinya; Ketujuh, amati hasil dan publikasikan; Kedelapan, ulangi langkah satu hingga tujuh. (David Dorsey; 2000)

Konsep Umum Positive Deviance

Dalam positive deviance, secara teoritis ada tahapan yang harus dilakukan yang disebut dengan istilah 6 “D” sebagai langkah yang harus dilalui dengan catatan yang melakukannya adalah komunitas yang bersangkutan yang didampingi oleh fasilitator. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Define, tetapkan atau definisikan masalah dan solusinya, dengarkan apa penyebabnya (analisis situasi) menurut mereka/komunitas sehingga lahir problem statement dari komunitas. Misalnya, dalam suatu kelompok masyarakat, anak-anak keluarga miskin mengalami kekurangan gizi.

Determine, tentukan apakah ada orang-orang dari komunitas mereka yang telah menunjukkan prilaku yang diharapkan atau menyimpang (deviants) dari keluarga miskin yang lain. Misalnya, ada anak dari keluarga miskin yang gizinya baik, sementara mereka berasal dari tempat yang sama dan menggunakan sumber yang sama

Discover, cari tahu apa yang membuat “penyimpang” mampu menemukan solusi yang lebih baik dari pada tetanggganya. Misalnya, “penyimpang” memberikan makanan secara aktif kepada anaknya, memberikan makanan yang bergizi (bersumber lokal) walau tidak biasa dikonsumsi oleh orang lain, memberi makan lebih sering kepada anaknya. Pastikan “penyimpang“ tidak mendapatkan subsidi dari sanak keluarganya yang mampu, baik yang berada di perkampungan itu maupun di daerah lain, sehingga itu juga merupakan penyebab anak tersebut menjadi lebih sehat.

Design, rancang dan susun strategi yang memampukan orang lain mengakses dan mengadopsi prilaku baru tersebut. Misalnya, membuat program gizi dan peserta diwajibkan membawa food contributions berupa makanan “penyimpang” dan mempraktekkannya secara aktif. Atau ada strategi lain yang bersumber kepada kebiasaan lokal yang bisa mendukung pengadopsian prilaku “penyimpang” yang sehat tadi.

Discern, amati tingkat efektivitas intervensi melalui pengawasan dan monitoring yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, mengukur status gizi anak-anak yang ikut program gizi dengan penimbangan dan dampaknya kepada anak-anak sepanjang waktu. Juga jangan lupa mengukur tingkat kepedulian anggota masyarakat lain terhadap peningkatan gizi anak, karena ini juga merupakan peningkatan kapasitas masyarakat terhadap kesehatan terutama gizi anak.

Disseminate, sebarluaskan kesuksesan kepada kelompok lain yang sesuai. Misalnya, bentuk sebuah “Universitas Hidup” (laboratorium sosial) sebagai tempat belajar bagi orang lain yang tertarik untuk mengadopsi prilaku mereka sendiri di tempat lain dan siap berpartisipasi dalam program tersebut. Untuk pendukung juga lebih bagus dilakukan kampanye terhadap peningkatan status gizi anak yang lebih efektif dan efisien daripada pola yang konvensional. Jadikan isu ini menjadi isu komunitas, tidak isu pribadi hanya keluarga yang terkena kasus gizi buruk saja.

Implementasi Positive Deviance dalam Konteks Perbaikan Gizi

Membuat design dan melakukan sebuah program ataupun kegiatan berbasis masyarakat dengan memanfaatkan model Positive Deviance adalah merupakan hal yang sederhana walau tidak mudah. Hal ini karena ada beberapa proses pencarian, penggalian dan penyelidikan yang menjadi awal titik kritis yang membutuhkan kehati-hatian dan keseriusan dalam penyaringannya, di samping titik kritis lain seperti pekerjaan ini harus benar-benar partisipatif dan melibatkan komunitas dari awal memulai aktivitas.

Beberapa catatan penting dirasa perlu diungkapkan dari pengalaman Totalitas melaksanakan program Inovasi Gizi Anak Nagari (INGAN) dalam menjalani proses standar implementasi perbaikan gizi dengan model Positive Deviance (PD) di Sungai Lasi Kabupaten Solok, Sumatera Barat adalah sebagai berikut:

1.    Putuskan apakah PD & Hearth memungkinkan untuk masyarakat dampingan

Dalam proses memutuskan apakah kegiatan ini memungkinkan dilakukan dalam sebuah komunitas sebaiknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya prevalensi kekurangan gizi terhadap anak di dalam komunitas yang akan diintervensi di atas 30% (gizi baik dan gizi kurang) karena kalau ternyata kurang dari jumlah tersebut dikhawatirkan solusi ini kurang efektif karena ternyata kondisi gizi anak di komunitas tersebut sudah cukup baik dan solusi lain mungkin lebih efektif dilakukan secara intensif. Di Nagari Taruang-taruang yang di data melalui penimbangan langsung ke rumah-rumah penduduk karena khawatir dari jumlah anak ternyata tidak semuanya yang datang penimbangan di posyandu, didapat 43,7% anak yang mengalami kekurangan gizi, sedangkan di Nagari Sungai Durian ditemukan 51,35% anak yang mengalami kekurangan gizi.

Setelah mendapatkan angka valid dari penimbangan langsung, sebelumnya juga dihindari kendala teknis akan mungkin menghambat proses penimbangan, seperti keakuratan timbangan yang digunakan karena itu dapat membuat pekerjaan yang akan dilakukan menjadi sia-sia. Selanjutnya dilakukan survey tentang ketersediaan sumberdaya makanan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat 2 nagari di Sungai Lasi ternyata mencukupi kebutuhan makanannya sebagian dari hasil lahan garapan mereka dan sebagian lagi dibeli di pasar dan warung. Artinya, ketersediaan makanan di dua daerah tersebut dalam keadaan normal terjamin. Kondisi normal dimaksud adalah diukur dengan kemampuan daya beli dan kondisi hasil pertanian yang ada serta pendapatan masyarakat. Juga perlu diperhatikan bahwa masyarakat tidak dalam mendapatkan bantuan makanan atau yang lainnya yang berhubungan dengan akses makanan dalam jangka pendek dari pihak luar. Apabila masyarakat mendapatkan bantuan dari pihak luar, hal itu berarti masyarakat memang tidak mampu mengakses makanan secara mandiri, Makanya program ini boleh diklasifikasikan kepada masa rehabilitasi, bukan emergency karena dalam keadaan emergency program ini tidak efektif dilakukan.

Survey ini menjadi penting karena program perbaikan gizi akan dilakukan dalam waktu yang panjang oleh masyarakat secara partisipatif, bukan hanya kegiatan jangka pendek dan pastikan bahwa sumberdaya tersebut adalah berasal dari lokal dan tidak didatangkan dari luar komunitas atau dari luar daerah. Apabila sumberdaya tersebut berasal dari daerah lain, maka ketersediaan setiap waktu dan juga kemampuan masyarakat dalam mengaksesnya diragukan, apalagi dengan kondisi perekonomian di Sungai Lasi yang cukup sulit bagi mereka mendatangkan sumberdaya dari luar.

Kondisi lain yang perlu dipantau sehubungan dengan justifikasi dalam memilih program ini sebagai solusi kekurangan gizi adalah adanya faktor penghambat selain yang disebutkan di atas, seperti cacingan pada anak, angka TB yang tinggi, diare, pneumonia, dan KLB penyakit campak yang mengharuskan pihak pelaksana program menuntaskan dulu penyakit tersebut dengan intervensi medis sebelum melakukan program. Di Sungai Lasi tidak ditemukan faktor penghambat di atas, kecuali diare yang dialami oleh beberapa anak dan satu orang anak direkomendasikan harus mendapat perawatan medis secara intensif karena mangalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan adalah meminta kesediaan dari keluarga yang mempunyai anak, khususnya yang mengalami gangguan gizi (setelah ditimbang) untuk berkomitmen mengikuti program. Hal ini tidaklah mudah, karena seorang fasilitator harus tanggap kepada perasaan dan kebutuhan keluarga, misalnya orang tua akan marah jika anaknya dikatakan kurang gizi (walaupun kenyataannya benar). Carilah bahasa yang lebih halus dan tidak vulgar, seperti, “hasil timbangan anak ibu kurang dari yang seharusnya” atau bahasa lainnya yang tidak akan membuat orang tua tersinggung. Karena ketersinggungan itu berdampak kepada keengganan untuk terlibat dalam program dan menurunkan motivasi untuk memperbaiki gizi anak.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah menumbuhkan kepedulian orang tua (tidak hanya istri, akan tetapi juga suami dang anggota keluarga lainnya) terhadap kesehatan dan gizi anak. Sang istri yang sudah mengetahui urgensi kecukupan gizi anak juga harus memotivasi sang suami dan anggota keluarga lainnya. Pasangan suami istri di Koto Tuo, Sungai Lasi, misalnya. Sang suami membawa anak mereka ke pos gizi -menggantikan istrinya- dan berdiskusi bersama keluarga lainnya.  Sang istri sangat bangga bahwa suaminya punya kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan anak mereka. Sehingga mereka rutin bergantian dan bahkan sering bersama mengikuti sesi gizi di kampung mereka.

Meminta komitmen dari pemuka masyarakat setempat untuk mendukung program ini merupakah keharusan, karena dengan dukungan dalam pertemuan-pertemuan di masyarakat, membuat motivasi masyarakat menjadi lebih tinggi untuk berpartisipasi. Seperti di Pos Gizi Koto Tuo, Wali Jorong, pemuka masyarakat lainnya bersama masyarakat dan pemuda bergotongroyong memperbaiki bangunan yang akan dijadikan sebagai pos gizi bagi anak-anak mereka, ini merupakan awal yang sangat baik dalam menjalankan program yang partisipatif.

Dari pengalaman di lapangan, faktor tempat menjadi berpengaruh bagi kelancaran program, pernah dilakukan di beberapa rumah kader atau rumah penduduk, namun peserta merasakan ada kecanggungan. Apalagi bagi yang pernah berkonflik, rata-rata mereka mencari alasan untuk tidak bisa datang dalam kegiatan pos gizi. Bangunan umum ternyata menjadi solusi yang lebih baik karena berbagai kecanggungan akan hilang karena masyarakat merasa sama mempunyai hak memanfaatkannya.

2.    Mobilisasi masyarakat dan pemilihan orang yang akan terlibat dalam program

Sosialisasikan program kepada pemuka masyarakat dan masyarakat luas dengan menggali keinginan mereka terhadap kondisi kekurangan gizi yang dialami anak-anak di daerah mereka. Dukungan dari masyarakat secara luas harus didapat dengan melakukan pendekatan-pendekatan partisipatif, sehingga target partisipasi yang diharuskan program bisa terwujud tidak hanya dari keluarga peserta program, akan tetapi juga dari masyarakat secara luas. Program pos gizi merupakan program masyarakat, sehingga menuntut partisipasi masyarakat dari awal proses program.

Sementara itu, pelaksana program yang datang dari luar berfungsi sebagai fasilitator karena mereka pada dasarnya tidak mengetahui apa yang terjadi di masyarakat, apa nilai-nilai yang hidup dan tumbuh di masyarakat, apa prilaku umum dan khusus masyarakat, dan lain sebagainya yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Satu hal yang pasti harus dilakukan oleh fasilitator program ini adalah menjamin terlaksananya program oleh masyarakat. Ini bukan kerja mudah. Malah pada awal program mobilitas fasilitator dituntut sangat tinggi, karena proses awal ini akan menentukan keberhasilan program. Pastikan semua elemen yang terkait dengan program berjalan dengan baik.

3.    Persiapkan penjajakan Positive Deviance

Seperti halnya setiap memulai sesuatu aktivitas di lapangan, fasilitator/surveyor harus mempersiapkan segala sesuatu hal yang akan berguna untuk mencapai tujuan, begitu juga halnya dengan penjajakan positive deviance ini. Di antara persiapannya adalah :

  • a. Persiapkan data sekunder; Biasanya data ini ada di posyandu atau polindes dan puskesmas, data sekunder ini bertujuan untuk memudahkan dalam menelusuri keluarga mana yang pantas dikunjungi atau dijajaki.
  • b. Persiapkan lokasi dan keluarga yang akan dijajaki; Tentukan lokasi dan keluarga mana yang akan dijajaki sehingga penjajakan akan lebih terarah kepada target. Biasanya keluarga yang akan dikunjungi lebih dari 3 (tiga) keluarga, mengingat proses penjajakan yang harus teliti dan sulitnya menemukan perilaku menyimpang dalam sebuah keluarga.
  • c. Atur waktu pertemuan dengan keluarga; Jangan sampai terlalu menggangu keluarga yang akan dikunjungi. Faktor ini harus diperhatikan dengan serius, walau terlihat hanya remeh-temeh, namun ini merupakan kesan pertama yang ditangkap masyarakat. Jika kesan ini tidak bagus atau dalam artian keluarga yang dikunjungi merasa sangat terganggu, maka masyarakat akan membuat pencitraan tersendiri terhadap fasilitator/surveyor.
  • d. Persiapkan alat pendukung; Persiapkan alat-alat pendukung yang nantinya diperlukan, seperti alat tulis, data sekunder, timbangan dan lainnya yang dibutuhkan.
  • e. Buatkan daftar pertanyaan dan pengamatan sebagai pegangan untuk fasilitator/surveyor yang akan bertugas.
  • f. Bagi tenaga; Biasanya penjajakan ini dilakukan secara bersama dengan melibatkan kader di desa secara partisipatif, maka tenaga yang tersedia harus dibagi ke berbagai keluarga yang masuk ke dalam list yang akan dikunjungi. Dalam mengunjungi keluarga jangan terlalu ramai dan jangan terkesan fasilitator/surveyor menginterogasi keluarga.
  • g. Bekali fasilitator/surveyor dengan teknik dan etika penjajakan keluarga.

4.    Lakukan penjajakan Positive Deviance

Mulailah melakukan penjajakan dengan lebih akrab dengan keluarga dan anak, masuklah ke dalam dunia mereka, jangan bawa dunia baru kepada mereka. Usahakan semua keluarga (termasuk pengasuh) yang dijajaki hadir dalam proses penjajakan, karena mereka merupakan sumber informasi. Tanyakan dan amati beberapa hal yang menyangkut bahan makanan dan cara memasak, pola pemberian makanan terhadap anak, pola pengasuhan anak dan penerapan prilaku sehat terhadap anak dan keluarga.

Dalam proses penjajakan, seorang fasilitator/surveyor harus banyak mengamati, tidak hanya bertanya, termasuk kondisi kebersihan dan lingkungan. Sering kali penjajakan tidak bisa dilakukan hanya pada hari itu, tidak jarang fasilitator/surveyor harus kembali mengamati keluarga tersebut pada hari yang lain, misalnya mengamati cara masak keluarga, pola pemberian makanan si anak dan lain sebagainya, sehingga penjajakan akan lebih sempurna.

Konfrontasikan data yang didapat dari keluarga dengan pandangan dan hasil pengamatan tetangga mereka, karena tetangga biasanya banyak tahu sebagai orang yang berada di lingkungan mereka. Jika tetangga merasa keberatan dengan data yang fasilitator/surveyor dapatkan, maka lakukan pengamatan ulang.

5.    Rancang Proses Transformasi Pengalaman

Setelah dilakukan penyimpangan positif, lakukan pertemuan untuk merancang sesi transformasi pengalaman dalam hal (bahan makanan dan cara memasak, pola pemberian makanan terhadap anak, pola pengasuhan anak dan penerapan prilaku sehat terhadap anak dan keluarga) yang sesuai dengan hasil penjajakan positive deviance yang telah dilakukan. Proses transformasi pengalaman ini sering disebut juga sesi hearth.

Buatlah rancangan untuk jangka pendek dan jangka panjang secara bersama dan gali kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan anak, keluarga dan lingkungan mereka. Karena pada dasarnya manusia bertahan hidup dengan komunitas, bukan individu. Setidaknya harus ada kepedulian orang lain terhadap dirinya.

6.    Lakukan Proses Transformasi Pengalaman

Setelah membuat rancangan proses transformasi pengalaman secara bersama dengan peserta lainnya, maka selanjutnya lakukan prosesi sesuai dengan rancangan tersebut. Pastikan bahwa dalam proses transformasi pengalaman juga dilakukan sesi memasak bersama dan mempraktekkan prilaku sehat pada anak.

Pertama, kumpulkan kontribusi dari para peserta, biasanya adalah bahan makanan lokal, peralatan masak beserta kelengkapan, seperti kayu bakan atau minyak tanah jika memasak dengan kompor.

Kedua, terangkan dan berbagilah tentang apa yang akan dimasak (tentu masakan lokal yang pernah/sering dilakukan ibu yang berhasil) oleh ibu yang anaknya sehat. Lalu uraikan komponen yang akan dimasak dan terangkan kadar gizi yang terkandung di dalamnya.
Sementara sesi ini berjalan, anak-anak perlu diperhatikan dan diasuh oleh beberapa ibu atau kakak-kakak mereka, sehingga tidak mengganggu proses transformasi dan memasak.

Ketiga, lakukan makan bersama serta memulai dengan mencuci tangan secara bersama (agar menjadi kebiasaan), lalu terapkan prilaku baik lainnya sebelum makan, seperti membaca do’a dan lainnya.

Keempat, setelah makan lakukanlah diskusi seputar gizi, pengasuhan anak, kebersihan personal dan lingkungan, sehingga mereka dapat berbagi dan mendapatkan pengetahuan serta pengalaman baru.

Kelima, sepakati menu dan topik diskusi untuk hari berikutnya secara bersama, dan tetapkan jenis kontribusi yang harus dibawa peserta, sehingga pada hari selanjutnya prosesi ini bisa dilakukan tepat waktu.

Bagilah waktu dengan cermat, dan jangan terlalu lama dalam prosesi tranformasi pengalaman, utamakanlah kwalitasnya, sehingga aktivitas sehari-hari keluarga tidak terlalu terganggu.

7.    Dukung prilaku baru

Dalam melakukan sesi transformasi pengalaman, baik memasak, makan bersama, mempraktekkan kebersihan anak serta berdiskusi, hal yang terpenting dilakukan adalah memberikan penghargaan terhadap setiap pendapat atau tanggapan walaupun remeh. Dukunglah prilaku baru bagi semua peserta yang melakukannya, berikan terus motivasi kepada mereka serta yakinkan mereka bahwa yang mereka lakukan adalah benar dan sangat baik untuk kesehatan anak mereka.

Mendukung prilaku baru ini tidak melulu dilakukan dalam sesi transformasi pengalaman ini, akan tetapi juga akan lebih efektif dan mengena jika mendukung prilaku mereka dengan mendatangi rumah mereka sambil mengamati pola dan prilaku keluarga dalam memasak, mengasuh, memberi makan anak serta kesehatan personal dan lingkungan mereka. Motivasi dan dukung terus prilaku sehat yang mereka lakukan.

8.    Ciptakan kegiatan pendukung agar kegiatan tidak menjemukan

Seperti juga halnya dengan setiap kegiatan rutin, jika tidak ada suatu kondisi yang membuat nyaman, maka semua orang akan mereasa jenuh. Begitu juga halnya dengan kegiatan ini, peserta akan lebih cepat jenuh, apalagi di tengah aktivitas keseharian para ibu-ibu peserta yang cukup sibuk. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dalam melakukan kegiatan ini, diantaranya adalah seperti yang biasa dilakukan yaitu arisan atau julo-julo, sehingga ada sesuatu yang akan mereka harapkan atau bawa pulang di setiap sesi.

Selain itu, jika memungkinkan, kelompok pos gizi juga dapat melakukan kegiatan membuat kerajinan tangan yang bisa dipasarkan atau melakukan kegiatan ekonomis lainnya. Sehingga di samping melakukan aktivitas demi kesehatan anaknya, juga mereka mendapatkan penghasilan tambahan dari kegiatan pendukung yang mereka lakukan. Akan tetapi pastikan bahwa kegiatan pendukung ini jangan sampai menjadi kegiatan utama sehingga perlahan akan mengabaikan kegiatan peningkatan status gizi terhadap anak-anak mereka, baik ketika berada di pos gizi maupun di rumah masing-masing.

9.    Ulang sesi Hearth jika diperlukan

Setelah melakukan prosesi langkah pertama sampai dengan langkah kedelapan, akan ada terasa sesuatu hal yang baru dan positif. Namun kegiatan Positive Deviance ini tidaklah seperti mengkonsumsi obat, sekali membeli, meminumnya dan setelah itu langsung sehat, akan tetapi ini adalah suatu proses sosial yang tidak bisa dilakukan hanya sekali jalan.

Banyak anak yang status gizinya meningkat setelah mengikuti satu sesi hearth ini (selama tiga bulan). Namun, ada beberapa kasus status gizi anak tidak mengalami peningkatan yang berarti selama satu sesi itu. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya ada penyakit lain sebagai penyebab.

Jika ternyata setelah mengikuti satu kali sesi hearth (3 bulan) dirasakan peningkatan status gizi anak belum seperti yang diharapkan, maka dianjurkan sekali untuk mengulangi lagi mengikuti sesi hearth berikutnya. Sebab pada dasarya anak-anak suka untuk berkumpul dan bersosialisasi antar sesama mereka, dan tidak sedikit juga anak-anak yang tetap ikut sesi ini walaupun sudah lulus atau status gizinya normal.

10.    Perluas program Positive Deviance & Hearth

Seperti halnya setiap kegiatan yang positif, banyak pihak yang ingin mencoba menirunya. Penggunaan pendekatan positive deviance dalam meningkatkan status gizi anak, secara konsep, sudah dirancang sedemikian rupa sehingga kegiatannya menjadi sederhana dan replicable atau bisa dilakukan dalam komunitas lain. Selain di Sungai Lasi Kabupaten Solok, Totalitas juga telah mereplikasi kegiatan ini di kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang.

Positive deviance adalah suatu pekerjaan yang dimulai dengan nilai lokal (local wisdom). Suatu pekerjaan yang dimulai dengan memanfaatkan nilai lokal jauh lebih efektif daripada membawa nilai-nilai baru yang dipaksakan. Bagaimanapun nilai lokal merupakan suatu komitmen dan prilaku yang sudah mengakar di dalam sebuah komunitas, dan hal itu mereka lakukan dan jaga bersama secara terus menerus.

Di lain sisi, dalam implementasi program dengan model positive deviance menuntut aktivitas partisipatif sebagai roh dari keberlangsungan dan keberlanjutan program di tingkat komunitas. Sangat banyak program atau kegiatan yang positif menjadi sia-sia disebabkan hal sederhana yang terabaikan semenjak aktivitas dimulai. Niat baik dan kegiatan baik akan menjadi kurang berarti jika tidak dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Maka tugas selanjutnya adalah menjaga keberlanjutan program/kegiatan.

DAFTAR PUSTAKA


Deanden, K., N. Quan, M. Do, D. Marsh, D. Schroeder, H. Pachon, L. Tran, Influences on Health Behavior, Child Survival Connections
Donna Sillan, Deviasi Positif/Hearth, Child Survival and Collaborations and Resources (CORE) Group
Dorsey, David, Positive Deviance, FC, 2000
Mercy Corps, Notulensi Training Penyimpangan Positif, Padang, 2003
PCI/Indonesia, Training Deviasi Positif (DePo), Jakarta, 2002
Positivedeviance.org, Introduction to PD, 2002, Supported by a Grant From The Ford Foundation
Save The Children Experience, The Positive Deviance Hearth Nutrition Model, 2002
Soelaiman, M. Munawar, Dinamika Masyarakat Transisi Mencari Alternatif Teori Sosiologi dan Arah Perubahan, Pustaka Pelajar, 1998
Sternin, Jerry and Choo, Robert, The Power of Positive Deviancy, Harvard Bussines Review, 2000
The PD Network, Positive Deviance Pendekatan Pemecahan Masalah Masyarakat Berbasis Masyarakat, Vol 1, No 1, 2003

 

Bulletin

S5 Box

Register

*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.