PDF
Print
E-mail

Periode konsepsi (270 hari) hingga usia dua tahun pertama (730 hari) kehidupan anak merupakan masa sensitif penentu kualitas sumber daya manusia. Pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), intervensi gizi sangat diperlukan karena salah gizi pada periode ini berdampak pada penurunan kemampuan kognitif dan risiko penyakit degenaratif di usia dewasa (Teori Barker). Salah satu bentuk intervensi gizi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) adalah dengan melakukan pendidikan gizi, baik konseling individu maupun kelompok (Bappenas 2012).

Bentuk intervensi gizi yang telah berjalan sejak tahun 1970an adalah pelaksanaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Kehadiran posyandu di tengah-tengah masyarakat mampu menjangkau kelompok umur 1000 HPK, mengingat posyandu merupakan tempat yang paling sering dikunjungi oleh ibu hamil dan balita. Melalui posyandu, upaya menurunkan risiko kematian ibu hamil dan anak dapat dilakukan dengan memantau status kesehatan ibu dan anak secara berkala. Selain itu, pemberian edukasi, praktik gizi dan kesehatan diharapkan mempu meningkatkan derajat kesehatan bumil, busui, dan balita.

Sejak November 2013, PDRC FKM UI membantu memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi petugas kesehatan dan kader Posyandu binaan Grup IndoAgri tentang pentingnya 1000 HPK dan Gizi Seimbang melalui Program Revitalisasi Posyandu. Setelah sebelumnya dilakukan kegiatan Master of Trainers (MOT) dan Training of Trainers (TOT) di daerah Sumatera Selatan, dilakukanlah kegiatan monitoring untuk melihat keberhasilan program dan pelatihan yang diberikan. Kegiatan ini berlangsung pada 20 – 25 Agustus 2015 di Area I dan Area II perkebunan IndoAgri. Monitoring di Area I dilaksanakan di Muara Medak Estate dan Sungai Ampalau Estate. Sementara, kegiatan di Area II dilaksanakan di Mancang Estate dan Megah Abadi Estate.

Terdapat beberapa komponen yang dipantau dalam program revitalisasi posyandu ini, diantaranya adalah penyelenggaraan posyandu. Dalam hal penyelenggaraan, monitoring dilakukan pada lima langkah kegiatan posyandu, meliputi pendaftaran, penimbangan dan pengukuran panjang badan/tinggi badan dan LiLA, pencatatan KMS, penyuluhan/konseling, dan pelayanan kesehatan. Selain itu, dipantau pula sarana dan prasarana posyandu serta keterampilan para tenaga kesehatan dan kader dalam melakukan pengukuran antropometri. Sebagaimana idealnya penyelenggaraan posyandu, pemantauan status gizi dan kesehatan tidak hanya ditujukan pada bayi/balita tetapi juga ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, dan wanita usia subur.

Suasana ramai dan bersemangat kami rasakan saat mengunjungi Posyandu di Muara Medak Estate. Tidak hanya kader tetapi juga para peserta posyandu terlihat antusias mendengarkan penyuluhan oleh salah seorang Bidan posyandu. Di akhir penyuluhan, diadakan tanya jawab mengenai materi, yaitu Vitamin A. Setelah penyuluhan dilakukan, dimulailah pelaksanaan posyandu yang ditandai dengan pemberian vitamin A pada balita. Sama halnya dengan Muara Medak, saat mengunjungi posyandu di Pulai Gading Estate pun sedang melaksanakan penyuluhan mengenai ASI Eksklusif. Penyuluhan ini pun disambut baik oleh para Ibu yang datang ke posyandu ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat sesi tanya jawab.

 

 

Berpindah lokasi ke Area II, kami mengunjungi Posyandu Mawar di Sungai Ampalau Estate. Pelaksanaan posyandu terlihat rapih, data terintegrasi dan tercatat dengan baik. Antusiasme warga yang datang ke Posyandu di Sungai Ampalau ini serupa dengan antusias warga di Posyandu Merang Estate. Jam buka posyandu di Merang Estate dari pukul 14.00 sampai dengan 18.00 WIB dikarenakan ramainya ibu dan balita yang datang ke posyandu. Peralatan antropometri pun tersedia sehingga dapat menunjang kegiatan posyandu.

Kegiatan posyandu ini pun mendapat dukungan dari manajer perkebunan tiap estate (Area I dan II). Reminder kegiatan posyandu kepada ibu-ibu yang bekerja di perkebunan selalu dilakukan. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan dan kader yang rajin mengingatkan para ibu untuk membawa balitanya ke posyandu.

Berdasarkan kegiatan monitoring yang dilakukan, seluruh posyandu sudah aktif menjalankan kegiatannya. Hal ini menunjukan kerja sama yang baik antara pihak perkebunan, tenaga kesehatan, kader, dan juga warga yang aktif datang ke posyandu meskipun kadang terkendala dengan akses/transportasi menuju posyandu. Kedepannya, diharapkan tenaga kesehatan dan kader dari masing-masing estate dapat saling bertukar pikiran dan mempelajari keunggulan posyandu estate yang lain, sehingga kompetensi tenaga kesehatan dan kader tiap estate di Sumatera Selatan dalam satu frekuensi untuk mewujudkan posyandu IndoAgri yang mandiri dan berkualitas.

 

Bulletin

S5 Box

Register

*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.