PDF
Print
E-mail

Gizi yang baik merupakan dasar dari kehidupan yang sehat dan sejahtera. Dalam siklus kehidupan, gizi memegang peranan penting mulai dari pembentukan dan perkembangan organ sewaktu janin hingga memelihara kesehatan di usia lanjut. Tidak heran, isu gizi selalu menjadi perhatian dan pembahasan global.

Tahun 2012 lalu, WHO mengadakan pertemuan tahunan yang diikuti seluruh negara anggota WHO (WHA-World Health Assembly) untuk merumuskan upaya peningkatan status gizi dan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita secara global. Upaya peningkatan status gizi dan kesehatan ini ditargetkan akan tercapai pada tahun 2025 mendatang.

Terdapat enam poin penting dalam Target Global WHA 2025, seperti menurunkan sebesar 40% jumlah anak yang pendek dan sangat pendek, menurunkan sebesar 50% kasus Anemia pada wanita usia subur, menurunkan sebesar 30% kasus bayi dengan berat lahir rendah, menurunkan kasus balita kurus hingga kurang dari 5%, mencegah meningkatnya kasus gizi lebih pada balita, dan meningkatkan kesadaran pemberian ASI Eksklusif untuk bayi (setidaknya 50% bayi diberi ASI Eksklusif).

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Indonesia sedang menghadapi masalah gizi yang semakin kompleks karena kasusnya yang saling beriirisan. Data dari UNICEF, WHO, dan World Bank (2014) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam 17 negara dari 117 negara di dunia dengan prevalensi tinggi untuk kasus balita pendek (37.2%), balita kurus (12.1%), dan balita gizi lebih (11.9%). Prevalensi anemia pada wanita usia subur di Indonesia pun tinggi, yaitu 21.7% dan kelahiran dengan berat badan lahir <2500 gram sebesar 10.2% (Riskesdas 2013). Sementara, dalam hal Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Indonesia adalah satu dari tiga negara (Guinea dan Nepal) dengan proporsi IMD terendah.

Merespon Target Global WHA 2025, Indonesia terus melaksanakan berbagai upaya peningkatan status kesehatan gizi ibu dan anak, sebagaimana yang terdapat dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2015-2019 ke depan. Indonesia juga turut serta dalam komitmen global (SUN-Scalling Up Nutrition) untuk menurunkan kasus balita pendek dan sangat pendek, serta fokus pada gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) dalam menyelesaikan masalah gizi pada anak.

Kedepannya, diperlukan komitmen bersama dari berbagai sektor untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut karena masalah gizi tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja (intervensi spesifik), tetapi juga oleh sektor di luar kesehatan (intervensi sensitif), misalnya sektor pertanian, pendidikan, sosial, perindustrian dan perdagangan, dan lainnya.

 

Referensi:

International Food Policy Research Institute. Global Nutrition Report: Actions And Accountability To Accelerate The World's Progress on Nutrition. 2014.

 

Bulletin

S5 Box

Register

*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.