PDF
Print
E-mail

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali meluluskan mahasiswa Program Doktoral (S3) bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat pada periode semester genap 2016 ini. Dua diantara lulusan tersebut adalah Dr. Mitra, SKM, MKM dan Dr. Ir. Asih Setiarini, M.Sc yang meraih gelar doktor secara resmi pada tanggal 15&16 Juli 2016 lalu, mengangkat tema disertasi mengenai pendekatan positive deviance (PD) dalam menyelasaikan permasalah gizi pada bayi dan baduta.

Dr. Mitra, SKM, MKM melakukan studi mengenai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya deviasi positif pertumbuhan di usia lima bulan pada bayi dengan riwayat BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Desain yang digunakan merupakan perpaduan antara pendekatan kuantitatif (cohort prospective) dan kualitatif (rapid assessment procedure). Jumlah bayi yang diteliti sebanyak 61 bayi BBLR dari 5 Rumah Sakit dan 7 Klinik Bidan di Kota Pekanbaru.

Temuanyang didapat dari studi ini adalah terlihat adanya deviasi positif pertumbuhan sebesar 65,6% pada saat bayi berusia lima bulan. Perilaku PD yang ditemukan adalah pemberian ASI dalam 24 jam lebih dari 12 kali, memeriksa kesehatan bayi setelah satu minggu dilahirkan, ibu menjaga kebersihan rumah, ayah turut mengasuh bayi, serta keputusan bersama antara ibu dan nenek dalam pemberian makan pada bayi.

Dr. Ir. Asih Setiarini, M.Sc dalam disertasinya berupaya untuk menggali perilaku PD pada keluarga miskin yang memiliki baduta gizi normal (tidak pendek) melalui pendekatan Positive Deviance Inquiry (PDI). Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Asih merupakan nested research pada Studi Kohort Tumbuh Kembang Anak yang dilakukan oleh Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat (PTIKM) Kementerian Kesehatan RI di Kota Bogor sejak 2011. Desain dalam penelitian ini adalah nested-case control dengan jumlah kasus sebanyak 35 baduta dan kontrol sebanyak 13 baduta.

Perilaku PD yang ditemukan pada keluarga miskin dengan baduta tidak pendek di usia 0-6 bulan, utamanya adalah praktik IMD dan frekuensi pemberian ASI Eksklusif. Sementara, di usia 7-12 dan 12-23 bulan, utamanya adalah pemberian ASI yang lebih sering ketika sakit dan pemberian makanan utama dan selingan dengan variasi dan jumlah yang lebih banyak. Ditemukan pula perilaku lainnya seperti adanya kontak mata setiap kali Ibu menyuapi anak makan dan upaya membujuk anak agar mau makan.

Berdasarkan temuan yang berhasil digali oleh Dr. Mitra dan Dr. Asih, keduanya sepakat bahwa dalam hal intervensi gizi, pendekatan PD mampu menjadi alternatif solusi. Upaya menggali perilaku unik dalam masyarakat yang menjadi kekuatan pendekatan ini adalah kunci dalam mendesain program intervensi. Keduanya meyakini bahwa pendekatan PD ini juga dapat lestari di masyarakat karena dalam setiap tahapan menemukan solusi dari masalah yang dihadapi, selalu ada peran serta atau partisipasi aktif dari masyarakat. Sehingga ke depannya, Dr. Mitra dan Dr. Asih akan berupaya mendesain program intervensi menggunakan pendekatan PD di masing-masing lokasi penelitian dan daerah lainnya sesuai dengan kebutuhan.


 

Bulletin

S5 Box

Register

*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.