News
PDF
Print
E-mail

Tahun 2013, Dompet Dhuafa cukup berhasil melakukan implementasi pendekatan positive deviance dalam Program Desa Sehat Mandiri. Atas keberhasilan itu mereka kembali melanjutkan kegiatan PD dalam tahun 2013 ini. Pada tanggal 12 Juni 2013, Dompet Dhuafa secara  resmi membuka Program Klaster Mandiri di Desa Sambilawang Kec. Bungkal, Kab. Ponorogo dan dibuka langsung oleh Bupati Ponorogo H. Amin, S.H.

Menurut penjelasan Dr. Adi Mawardi, MARS (Manager Makmal dan Direktur LKC Dompet Dhuafa),  Program Klaster Mandiri merupakan kegiatan yang  meliputi 4 bidang yaitu sosial, pendidikan,ekonomi dan kesehatan. Dalam bidang kesehatan, Dompet Dhuafa melalui jejaringnya Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa telah melaksanakan Program Desa Sehat Mandiri yaitu desa yg memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan termasuk bencana secara mandiri. Ini bisa diartikan masyarakat telah  menyadari, mau dan mampu, untuk mengenali dan mencegah permasalahan kesehatan.

Program Desa Sehat Mandiri LKC Dompet Dhuafa, terdiri dari  Pos Sehat, Pendampingan Posyandu, Program Anak Sekolah Sehat, Pos Gizi dengan pendekatan positif deviance, serta penanggulangan gawat darurat dan bencana.

Acara pembukaan dimeriahkan dengan pertunjukan beberapa tarian tradisional oleh anak-anak TK Sambilawang dan juga ditampilkan pertunjukan khas Kabupaten Ponorogo yaitu Reog Ponorogo.

Dr. Adi berharap, dengan dukungan seluruh stakeholder dan peran serta aktif masyarakat, Program Klaster Mandiri Dompet Dhuafa akan berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi seluruh masyarakat Kabupaten Ponorogo.

Sumber : http://www.lkc.or.id/

 
PDF
Print
E-mail

Lembaga Swadaya Masyarakat World Vision Indonesia (WVI) tetap konsisten dalam melakukan kegiatan implementasi pendekatan positive deviance.  Pada tanggal 3 Juli 2013, WVI telah mengadakan kegiatan Positive Deviance di Posyandu Tahang Manggarai NTT dengan membuka Kegiatan Pos Gizi yang berlangsung selama 10 hari. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Lembaga Swadaya Masyarakat WVI dengan kader Posyandu Tahang Manggarai NTT.

Dari hari pertama kegiatan Pos Gizi, hampir sebagian besar balita pos gizi mengalami perkembangan. Sebagian balita mengalami peningkatan asupan makanan, walaupun ada juga yang tidak membaik nafsu makannya. Setelah 10 hari sesi pos gizi berlangsung, 10 balita peserta pos gizi yang sebelumnya mengalami gizi kurang  mengalami peningkatan berat badan dan hanya satu balita yang berat badannya tetap.

Pekembangan balita perserta pos gizi tidak hanya peningkatan berat badan, mereka juga mengalami perkembangan perilaku social. Beberapa anak yang pada hari pertama dan hari kedua kegiatan masih malu-malu dan takut bermain bersama teman sebayanya. Namun setelah beberapa hari, mereka sudah mulai bermain dengan lincah dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Kader dan peserta pos gizi merasa banyak mendapat manfaat dari kegiatan PD. Mereka sangat bersyukur karena dengan mengikuti kegiatan ini  mereka mendapat banyak pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan gizi anak. Selain itu juga dilatih cara memanfaatkan pekarangan rumah menjadi kebun gizi. Sehingga dengan kegiatan ini, keluarga  sasaran dapat mengetahui cara mengelola bahan-bahan yang tersedia dengan mudah, seperti sayur-sayuran yang ditanam di pekarangan rumah.

Kegiatan pos gizi telah mendukung dan membantu mengatasi masalah kurang gizi pada balita. Tantangan yang dirasakan oleh para kader adalah mencari solusi ketersediaan lauk khususnya tahu dan tempe. Mereka berharap dapat difasilitasi untuk mendapatkan pelatihan cara pembuatan tempe dan tahu.

Sumber : http://www.wvindonesia.org/?mod=205&id=2923&WVI_ID=41b8c760d98ede319cbfac667652334a

 
PDF
Print
E-mail

LATAR BELAKANG


Pendekatan Positive Deviance (PD) merupakan sebuah metode yang mulai banyak dilakukan di dunia kesehatan dengan tujuan untuk menangani masalah kesehatan yang didasarkan pada asumsi bahwa sebagian solusi untuk masalah-masalah kesehatan tersebut sudah ada atau dipraktekkan di dalam masyarakat itu sendiri, hanya perlu diidentifikasi.

Pendekatan ini berbasis pada “kekuatan” dan “modal” atas dasar keyakinan bahwa di setiap masyarakat ada individu atau kelompok tertentu yang mempunyai  kebiasaan dan perilaku unik yang memungkinkan mereka dapat menemukan cara-cara yang lebih baik untuk mencegah dan mengatasi permasalahan kesehatan dibandingkan tetangga-tetangga mereka yang memiliki sumber daya dan menghadapi resiko yang sama.

Sejak pertama kali dilaksanakan di Indonesia tahun 2002, pendekatan Positive Deviance (PD) telah diadopsi oleh berbagai instansi baik pemerintah maupun non  pemerintah di 41 Kabupaten di 15 Provinsi, terutama untuk mengatasi masalah gizi pada anak balita. Namun selain masalah gizi, PD juga telah digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan dan sosial lainya antara lain perdagangan anak perempuan. PD cukup berhasil dalam mengatasi masalah kekurangan gizi pada balita. Kegiatan implementasi PD di Kota Depok, Jawa Barat, berhasil mengantarkan Depok meraih Milennium Development Goals (MDGs) Award 2011 untuk kategori  nutrisi. Di tahun yang sama, PT Berau Coal Tbk juga berhasil mendapatkan Platinum Award Corporate social responsibility (CSR) 2011 untuk untuk kategori MDG 4 melalui Program pelayanan kesehatan anak balita menggunakan Pendekatan Positive Deviance.

Program pelatihan pendekatan positive deviance merupakan program pelatihan yang disusun secara khusus oleh PDRC untuk meningkatkan kemampuan SDM  berbagai pihak yang berkepentingan dalam pelayanan agar memahami dan mampu mengimplementasikan pendekatan PD di daerahnya. Lokasi pelatihan diadakan di institusi yang bersangkutan atau di luar lokasi,  dengan jumlah peserta minimal 15 orang  dan maksimal 20 per kelas.

 
PDF
Print
E-mail

telaah data posyanduPada tanggal 1-6 Oktober 2012,  PT. Berau Coal Tbk dan Positive Deviance Resource Centre FKM UI kembali mengadakan pelatihan Positive Deviance untuk Pelaksana di Kabupaten Berau. Pelatihan tahap 3 ini diselenggarakan di Kampung Batu-batu Kecamatan Gunung Tabur dan Kampung Tanjung Perangat Kecamatan Sambaliung. Fasilitator dari PDRC yang bertugas mendampingi fasilitator lokal dalam pelatihan ini adalah Ibu Elly Musa dan Bapak Mohammad Thamrin.

Hari pertama pelatihan diawali dengan acara pembukaan, perkenalan peserta, penyusunan kontrak belajar selama pelatihan dan pemberian materi.  Materi yang diberikan pada hari pertama pelatihan meliputi  Konsep Positive Deviance, penentuan umur, telaah data posyandu, (buat table, diagram status gizi, gambar balita sehat dan kurang gizi) dan penentuan peringkat kekayaan (kriteria mapu, tidak mampu, ploting data balita pada KMS besar).

Pelatihan hari kedua diawali dengan review hari pertama dan dilanjutkan dengan pemberian materi diskusi kelompok,  kunjungan rumah, bedah kuesioner, bermain peran dan persiapan kunjungan rumah. Pelaksanaan Diskusi kelompok dan Kunjungan rumah dilakukan di hari ke tiga pelatihan, dimana hasil analisanya dipersiapkan untuk kegiatan Musyawarah Masyarakat kampung yang diadakan di hari ke empat pelatihan. Pada hari kelima, peserta pelatihan belajar merancang kegiatan pos gizi antara lain kegiatan menyusun menu makanan untuk peserta pos gizi, menyusun praktek dan perilaku kesehatan yang akan disampaikan dalam pesen kesehatan. Tidak ketinggalan juga menyusun permainan untuk balita peserta pos gizi, agar anak senang datang ke pos gizi.  Hari terakhir pelatihan diisi dengan praktek simulasi pos gizi. Pelatihan ditutup dengan sambutan  dari perwakilan PT. Berau Coal Tbk dan doa penutup.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Bulletin

S5 Box

Register

*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.