Article
PDF
Print
E-mail

Penulis/ Kontributor :

Positive Deviance Resource Centre Univeesity of Indonesia (PDRC FKM UI) : Asih Setiarini, DiahM Utari, Dian Dri Redjeki, Elly Musa, Heru Heryanto, Lisa Avianty, Nanang Sunarya, Nurul Narulitasari, Siti Arifah Pujonarti, Trini Sudiarti.

PLAN Indonesia : Agusman rizal, Aking Sandi Pribadi, Duma Octavia Fransisca, Denny Rahadian, Siti Rahmah, Wahdini Hakim, Yohan Prasetyo.

Penyunting : Katharina Maria Anggraeni

Design Lay Out : KKMOZ

Cetakan I : 2010

Cetakan II : 2011

Diperbanyak oleh : PLAN Indonesia

Buku Pegangan Kader Pos Gizi ini terdiri dari dua seri, yang pertama adalah" Pengenalan Pendekatan Penyimpangan Positif di Pos Gizi" dan yang kedua tentang "Pelaksanaan Pos Gizi". Buku pertama menjelaskan tentang konsep dasar pendekatan Penyimpangan Positif atau Positive Deviance (PD) untuk mengatasi masalah kurang gizi. Sedangkan buku kedua menjelaskan tentang teknis pengelolaan Pos Gizi sebagai media untuk proses belajar perilaku di keluarga dan masyarakat. Buku pegangan kader Pos Gizi ini diperuntukan bagi kader yang sudah pernah mengikuti pengelolaan Pos Gizi.

 
PDF
Print
E-mail

Berdasarkan studi positive deviance yang pernah dilakukan Profesor Soekirman, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), diperoleh kesimpulan bahwa pola asuh anak  berpengaruh secara signifikan terhadap timbulnya kasus gizi buruk. Anak yang diasuh sendiri  oleh ibunya dengan kasih sayang, mengerti tentang  pentingnya air susu ibu (ASI), Pos Pelayanan Terpadu, dan kebersihan, meski dalam kondisi miskin, namun anaknya tetap sehat.

Selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa kasus gizi buruk yang banyak diderita anak balita di negeri ini hanya dialami oleh rumah tangga miskin.  Anggapan seperti ini  tidak sepenuhnya benar.  Satu contoh kasus,  anak seorang juragan warung tegal (warteg) yang notabene sangat berkecukupan, ternyata menderita gizi buruk. Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya pola asuh anak yang salah.  Kedua orang tuanya membuka warteg di Jakarta, sementara  pengasuhan si anak diserahkan kepada nenek. Karena keterbatasan pengetahuan sang nenek, setiap hari selalu memberi makan mi instan kepada cucunya. Kebiasaan itu membuat sang cucu hanya mau makan jenis makanan tersebut, lainnya tidak.

Bahkan, jika mi instan tersebut ditambahkan telur atau sayuran, anak tersebut menolak.  Kondisi seperti itu berlangsung dalam waktu cukup lama, sampai akhirnya petugas Puskesmas menemukan anak itu menderita gizi buruk. Puncak Gunung Es Kasus yang penulis paparkan itu barangkali hanya mewakili sebagian kecil dari kasus-kasus serupa yang banyak mencuat ke permukaan beberapa tahun terakhir.  Kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab merebaknya kasus gizi buruk, namun masih banyak faktor lain yang menjadi pemicu, di antaranya tingkat pendidikan yang rendah, dan persoalan budaya. Menurut data, saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 20,87 juta anak balita yang rata-rata lahir tahun 2000-an.  Dari jumlah itu, 27,5 persen di antaranya mengalami kasus gizi kurang dan gizi buruk.

Menurut para ahli gizi, kasuskasus yang mencuat ke permukaan hanyalah merupakan fenomena puncak gunung es. Di Republik ini terdapat jutaan balita lainnya yang mengalami gizi kurang yang biasanya tersembunyi. Muncul perlahan-lahan kemudian memuncak 20 tahun kemudian.

Seorang anak balita dikatakan mengalami keadaan gizi buruk jika berat badannya 60 persen di bawah standar internasional yang dikembangkan oleh badan National Centre for Health Statistic, Centers for Disease Control, USA(NCHS) yang telah diakui oleh WHO.  Sedangkan anak balita dikatakan mengalami gizi kurang bila berat badannya 7080 persen di bawah standar WHONCHS.  Balita-balita seperti ini mendapat asupan gizi yang tidak memadai.

Melalui Proses Tumbuh kembang mereka, utamanya pertumbuhan otak yang berhubungan dengan tingkat kecerdasan, menjadi terganggu. Jika hal ini terjadi, generasi ’’otak kosong’’ akan mewarnai negara ini 15 hingga 20 tahun kemudian.  Apabila penanganan masalah ini tidak serius, di Republik  ini dikhawatirkan terjadi generasi yang hilang (lost generation). Melihat kenyataan yang cukup memprihatinkan tersebut perlu kiranya pemerintah menggalakkan kampanye ’’Keluarga Sadar Gizi’’. Untuk keperluan tersebut, kaum perempuan (ibu) memiliki peran yang sangat strategis.

Fenomena gizi buruk bukanlah fenomena yang datangnya tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang dapat diantisipasi sejak dini.  Melalui pola asuh anak yang baik dan benar serta melalui kegiatan penimbangan berat badan balita setiap bulan di Posyandu, akan diketahui tingkat perkembangan anak dari Kartu Menuju Sehat (KMS).

Perlu digalakkan kampanye yang intensif dan berkelanjutan tentang arti penting memberikan air susu ibu (ASI) esklusif kepada bayi sejak lahir hingga usia enam bulan. Selain itu, juga perlu penyuluhan gizi tentang aneka ragam makanan, perlunya menggunakan garam beryodi- um, dan memberikan suplemen gizi sesuai anjuran. Dengan cara-cara seperti itu diharapkan angka prevalensi gizi buruk akan makin berkurang, demikian pula angka kematian ibu dan bayi.

Sumber zat gizi terbaik bagi bayi ada- lah ASI.  Secara kodrati Allah SWT telah menciptakan ASI dengan komposisi gizi yang sama untuk semua ibu.  Hal yang membedakan adalah jumlah produksi ASI dari masing-masing ibu yang sangat tergantung dari asupan makanan (gizi) dari ibu menyusui bersangkutan. Jika asupannya tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, maka sang ibu dan anak yang akan menderita.

Cairan pertama yang keluar dari ASI berupa kolostrum, yaitu cairan berwarna kekuningan yang mengandung zat anti penyakit. Ditinjau dari komposisi gizinya, setiap 100 gram ASI mengandung energi 62 kalori, protein 1,5 gram, lemak 4,6 gram, karbohidrat 5 gram, vitamin A 70 retinol ekuivalen (RE), thiamin 0,02 mg, riboflavin 0,04 mg, niasin 0,2 mg, vitamin C 30 gram, besi 0,2 gram (Suhardjo dkk: Pangan, Gizi dan Pertanian, 1986: 108).

Mencuatnya kasus-kasus gizi buruk juga sangat berkaitan erat dengan faktor budaya yang ada di masyarakat kita.  Selama ini masih b