Articles

ELN-PDRC Articles

Sejarah Perkembangan Positive Deviance di Dunia

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Setelah berakhirnya Perang Vietnam, anak-anak di wilayah-wilayah miskin Vietnam sering menderita kekurangan gizi. Penderitaan tersebut selain disebabkan oleh kesulitan ekonomi yang diderita negeri tersebut, juga dikarenakan faktor budaya seperti diharamkannya KB dan rendahnya tingkat pendidikan. Upaya-upaya dari lembaga donor yang membantu umumnya menggunakan pendekatan umum yang disarankan para ahli seperti memberikan bantuan makanan dalam jumlah besar sambil berusaha mengatasi faktor-faktor penyebabnya. Tentu saja langkah-langkah tersebut membutuhkan biaya yang besar. Setelah kerjasama  dengan donor berakhir, maka masalah gizi yang semula berusaha dientaskan maka akan timbul lagio karena penanganan yang tidak tuntas dan bukan dari akarnya.

Tahun 1990, lembaga swadaya masyarakat Save the Childiren memohon bantuan  Monique dan Jerry Sternin untuk mengunjungi Vietnam dan mencoba pendekatan baru untuk membantu Vietnam mengatasi masalah kesehatan yang sedang dihadapinya. Mereka mencoba pendekatan yang disebut dengan positive deviance. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang menekankan pada rekomendasi para ahli, Monique dan Jerry terjun ke desa-desa bukan untuk mencari penyebab terjadinya malnutrisi. Tetapi mereka mencari anak-anak yang gizinya baik walaupun hidup dalam lingkungan dan sumber daya yang sama. Anak-anak yang berbeda tersebut adalah para positive deviance (penyimpang positif). Logika dari pendekatan ini adalah mencari alasan mengapa ada sebagian individu yang sukses mengatasi masalah tersebut dan diharapkan dapat menyebarkan pengalaman/pengetahuan tersebut ke masyarakat setempat.

Setelah Monique dan Jerry menemukan fakta bahwa para penyimpang positif tersebut dapat hidup sehat karena ternyata ibu mereka memberi mereka tambahan makanan berupa udang dan kepiting dari sungai sekitar dan juga daun kentang manis yang kaya vitamin. Selain itu, mereka juga diberi makanan lebih sering dari anak-anak yang lain. Berbekal pengetahuan tersebut, Save The Children menyelenggarakan pertemuan untuk para ibu-ibu setempat lainnya. Para peserta diwajibkan membawa kontribusi berupa udang, kepiting, dan daun dimaksud. Hasilnya, hanya dalam waktu 6 bulan , dengan biaya yang jauh lebih kecil, dua per tiga (2/3) anak-anak di daerah tersebut mengalami kenaikan berat badan yang bermakna. Setelah 2 tahun, 85% anak-anak sudah dianggap bebas kurang gizi. Konsep ini segera diterapkan di desa-desa lainnya dengan sukses. Proyek-proyek positive deviance langsung diluncurkan di negara-negara lainnya, termasuk di Indonesia. (Para pembaca yang tertarik lebih jauh dengan proyek-proyek tersebut bisa membuka situs www.positivedeviance.org.)

Sumber : Modul Kegiatan Praktik Perilaku dan Pemulihan Gizi (KP3G) Melalui Pendekatan Positive Deviance